Jumat, 10 April 2015

BUDIDAYA STROBERI

SYARAT PERTUMBUHAN STROBRI
 Iklim
  1. Tanaman stroberi dapat tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan 600-700 mm/tahun.
  2. Lamanya penyinaran cahaya matahari yang dibutuhkan dalam pertumbuhan adalah 8–10 jam setiap harinya.
  3. Stroberi adalah tanaman subtropis yang dapat beradaptasi dengan baik di dataran tinggi tropis yang memiliki temperatur 17–20 derajat C.
  4. Kelembaban udara yang baik untuk pertumbuhan tanaman stroberi antara 80-90%.
 Media Tanam
  1. Jika ditanam di kebun, tanah yang dibutuhkan adalah tanah liat berpasir, subur, gembur, mengandung banyak bahan organik, tata air & udara baik.
  2. Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang ideal untuk budidaya stroberi di kebun adalah 5.4-7.0, sedangkan untuk budidaya di pot adalah 6.5–7,0.
  3. Jika ditanam dikebun maka kedalaman air tanah yg disyaratkan adalah 50-100 cm dari permukaan tanah. Jika ditanam di dalam pot, media harus memiliki sifat poros, mudah merembeskan airdan unsur hara selalu tersedia.
 Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat yg memenuhi syarat iklim tersebut adalah 1.000-1.500 meter dpl.

PEDOMAN BUDIDAYA STROBERI
 Pembibitan
Stroberi diperbanyak dengan biji & bibit vegetatif (anakan & stolon atau akar sulur). Adapun kebutuhan bibit per hektar antara 40.000-83.350.
  1. Perbanyakan dengan biji
    1. Benih dibeli dari toko pertanian, rendam benih di dalam air selama 15 menit lalu kering dan anginkan.
    2. Kotak persemaian berupa kotak kayu atau plastik, diisi dengan media berupa campuran tanah, pasir & pupuk kandang (kompos) halus yg bersih (1:1:1). Benih disemaikan merata di atas media & tutup dengan tanah tipis. Kotak semai ditutup dengan plastik atau kaca bening & disimpan pada temperatur18-20 derajat C.
    3. Persemaian disiram setiap hari, setelah bibit berdaun dua helai siap dipindah tanam ke bedeng sapih dengn jarak antar bibit 2-3 cm. Media tanam bedeng sapih sama dengan media persemaian. Bedengan dinaungi dengan plastik bening. Selama di dalam bedengan, bibit diberi pupuk daun. Setelah berukuran 10 cm & tanaman telah merumpun, bibit dipindahkan ke kebun.
  2. Bibit vegetatif untuk budidaya stroberi di kebun Tanaman induk yang dipilih harus berumur 1-2 tahun, sehat & produktif. Penyiapan bibit anakan & stolon adalah sebagai berikut:
    1. Bibit anakan : Rumpun dibongkar dengan cangkul, tanaman induk dibagi menjadi beberapa bagian yg sedikitnya mengandung 1 anakan. Setiap anakan ditanam dalam polibag 18 x 15 cm berisi campuran tanah, pasir & pupuk kandang halis (1:1:1), simpan di bedeng persemaian beratap plastik.
    2. Bibit stolon : Rumpun yg dipilih telah memiliki akar sulur pertama & kedua. Kedua akar sulur ini dipotong. Bibit ditanam di dalam atau polibag 18 x 15 cm berisi campuran tanah, pasir & pupuk kandang (1:1:1). Setelah tingginya 10 cm & berdaun rimbun, bibit siap dipindahkan ke kebun.
    3. Bibit untuk budidaya stroberi di polibag : Pembibitan dari benih atau anakan/stolon dilakukan dengan cara yg sama, tetapi media tanam berupa campuran gabah padi & pupuk kandang (2:1). Setelah bibit di persemaian berdaun dua atau bibit dari anakan/stolon di polibag kecil (18 x15) siap pindah, bibit dipindahkan ke polibag besar ukuran 30 x 20 cm berisi media yg sama. Di polibag ini bibit dipelihara sampai menghasilkan.
 Pengolahan Media Tanam
  1. Budidaya di Kebun Tanpa Mulsa Plastik
    1. Di awal musim hujan, lahan diolah dengan baik sedalam 30-40 cm.
    2. Keringanginkan selama 15-30 hari.
    3. Buat bedengan: lebar 80 x 100 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar bedengan 40 x 60 cm atau guludan: lebar 40 x 60 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar guludan 40 x 60 cm.
    4. Taburkan 20-30 ton/ha pupuk kandang/kompos secara merata di permukaan bedengan/ guludan.
    5. Biarkan bedengan/guludan selama 15 hari.
    6. Buat lubang tanam dengan jarak 40 x 30 cm, 50 x 50 cm atau 50 x 40 cm.

  1. Budidaya di Kebun dengan Mulsa Plastik.
    1. Di awal musim hujan, lahan diolah dengan baik & kering anginkan 15-30 hari.
    2. Buatlah bedengan: lebar 80 x 120 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar bedengan 60 cm atau guludan: lebar bawah 60 cm, lebar atas 40 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar bedengan 60 cm.
    3. Kering anginkan 15 hari.
    4. Taburkan & campurkan dengan tanah bedengan/guludan 200 kg urea, 250 kg SP-36 & 100 kg/ha KCl.
    5. Siram hingga lembab.
    6. Pasang mulsa plastik hitam atau hitam perak menutupi bedengan/guludan & kuatkan ujung-ujungnya dengaan bantuan bambu berbentuk U.
    7. Buat lubang di atas plastik seukuran alas kaleng bekas susu. Jarak antar lubang dalam barisan 30, 40 atau 50 cm, sehingga jarak tanam menjadi 40 x 30, 50 x 50 atau 50 x 40 cm.
    8. Buat lubang tanam di atas lubang mulsa tadi.
  1. Pengapuran : Bila tanah masam, 2-4 ton/ha kapur kalsit/dolomit ditebarkan di atas bedengan/guludan lalu dicampur merata. Pengapuran dilakukan segera setelah bedengan/guludan selesai dibuat.
 Teknik Penanaman
  1. Siram polybag berisi bibit & keluarkan bibit bersama media tanamnya dengan hati-hati.
  2. Tanam satu bibit di lubang tanam & padatkan tanah di sekitar pangkal batang.
  3. Untuk tanaman tanpa mulsa, beri pupuk dasar sebanyak 1/3 dari dosis pupuk anjuran (dosis anjuran 200 kg/ha Urea, 250 kg SP-36 & 150 kg/ha KCl). Pupuk diberikan di dalam lubang sejauh 15 cm di kiri-kanan tanaman.
  4. Sirami tanah di sekitar pangkal batang sampai lembab.
 Pemeliharaan Tanaman
  1. Penyulaman : Penyulaman dilakukan sebelum tanaman berumur 15 hari setelah tanam. Tanaman yang disulam adalah yg mati atau tumbuh abnormal.
  2. Penyiangan : Penyiangan dilakukan pada pertanaman stroberi tanpa ataupun dengan mulsa plastik. Mulsa yang berada di antara barisan/bedengan dicabut & dibenamkan ke dalam tanah. Waktu penyiangan tergantung dari pertumbuhan gulma, biasanya dilakukan bersama pemupukan susulan.
  3. Perempelan/Pemangkasan : Tanaman yang terlalu rimbun, terlalu banyak daun harus dipangkas. Pemangkasan dilakukan teratur terutama membuang daun-daun tua/rusak. Tanaman stroberi diremajakan setiap 2 tahun.
  4. Pemupukan
    1. Pertanaman tanpa mulsa: Pupuk susulan diberikan 1,5-2 bulan setelah tanam sebanyak 2/3 dosis anjuran. Pemberian dengan cara ditabur dalam larikan dangkal di antara barisan, kemudian ditutup tanah.
    2. Pertanaman dengan mulsa: Pupuk susulan ditambahkan jika pertumbuhan kurang baik. Campuran urea, SP-36 & KCl (1:2:1,5) sebanyak 5 kg dilarutkan dalam 200 liter air. Setiap tanaman disiram dgn 350-500 cc larutan pupuk.
  5. Pengairan & Penyiraman : Sampai tanaman berumur 2 minggu, penyiraman dilakukan 2 kali sehari. Setelah itu penyiraman dikurangi berangsur-angsur dengan syarat tanah tidak mengering. Pengairan bisa dengan disiram atau menjanuhi parit antar bedengan dengan air.
  6. Pemasangan Mulsa Kering : Mulsa kering dipasang seawal mungkin setelah tanam pada bedengan/ guludan yang tidak memakai mulsa plastik. Jerami atau rumput kering setebal 3–5 cm dihamparkan di permukaan bedengan/guludan & antara barisan tanaman.
HAMA & PENYAKIT STROBERI
 Hama
  1. Kutu daun (Chaetosiphon fragaefolii)
    • Kutu berwarna kuning-kuning kemerahan, kecil (1-2 mm), hidup bergerombol di permukaan bawah daun.
    • Gejala: pucuk/daun keriput, keriting, pembentukan bunga/buah terhambat.
    • Pengendalian: dengan insektisida Fastac 15 EC & Confidor 200 LC.
  2. Tungau (Tetranychus sp. & Tarsonemus sp.)
    • Tungau berukuran sangat kecil, betina berbentuk oval, jantan berbentuk agak segi tiga & telur kemerah-merahan.
    • Gejala: daun berbercak kuning sampai coklat, keriting, mengering & gugur.
    • Pengendalian: dengan insektisida Omite 570 EC, Mitac 200 EC atau Agrimec 18 EC.
  3. Kumbang penggerek bunga (Anthonomus rubi), kumbang penggerek akar (Otiorhynchus rugosostriatus) & kumbang penggerek batang (O. sulcatus).
    • Gejala: di bagian tanaman yang digerek terdapat tepung.
    • Pengendalian: dengan insektisida Decis 2,5 EC, Perfekthion 400 EC atau Curacron 500 EC pada waktu menjelang fase berbunga.
  4. Kutu putih (Pseudococcus sp.)
    • Gejala: bagian tanaman yang tertutupi kutu putih akan menjadi abnormal.
    • Pengendalian: kimia dengan insektisida Perfekthion 400 EC atau Decis 2,5 EC.
  5. Nematoda (Aphelenchoides fragariae atau A. ritzemabosi)
    • Hidup di pangkal batang bahkan sampai pucuk tanaman.
    • Gejala: tanaman tumbuh kerdil, tangkai daun kurus & kurang berbulu.
    • Pengendalian: dengan nematisida Trimaton 370 AS, Rugby 10 G atau Nemacur 10 G.
 Penyakit
  1. Kapang kelabu (Botrytis cinerea)
    • Gejala: bagian buah membusuk & berwarna coklat lalu mengering.
    • Pengendalian: dengan fungisida Benlate atau Grosid 50 SD.
  2. Busuk buah matang (Colletotrichum fragariae Brooks)
    • Gejala: bah masak menjadi kebasah-basahan berwarna coklat muda & buah dipenuhi massa spora berwarna merah jambu.
    • Pengendalian: dengan fungisida berbahan aktif tembaga seperti Kocide 80 AS, Funguran 82 WP, Cupravit OB 21.
  3. Busuk rizopus (Rhizopus stolonifer).
    • Gejala:
      1. buah busuk, berair, berwarna coklat muda & bila ditekan akan mengeluarkan cairan keruh;
      2. di tempat penyimpanan, buah yg terinfeksi akan tertutup miselium jamur berwarna putih & spora hitam.
    • Pengendalian: membuang buah yg sakit, pasca panen yg baik & budidaya dengan mulsa plastik.
  4. Empulur merah (Phytophthora fragariae Hickman)
    • Gejala: jamur menyerang akar sehingga tanaman tumbuh kerdil, daun tidak segar, kadang-kadang layu terutama siang hari.
  5. Embun tepung (Sphaetotheca mascularis atau Uncinula necator).
    • Gejala: bagian yg terserang, terutama daun, tertutup lapisan putih tipis seperti tepung, bunga akan mengering & gugur.
    • Pengendalian: dengan fungisida Benlate atau Rubigan 120 EC.
  6. Daun gosong (Diplocarpon earliana atau Marssonina fragariae)
    • Gejala: Daun berbercak bulat telur sampai bersudut tidak teratur, berwarna ungu tua.
    • Pengendalian kimia dengan fungisida Dithane M-45 atau Antracol 70 WP.
  7. Bercak daun
    • Penyebab :
      1. Ramularia tulasnii atau Mycosphaerella fragariae,
        • Gejala: bercak kecil ungu tua pada daun. Pusat bercak berwarna coklat yg akan berubah menjadi putih;
      2. Pestalotiopsis disseminata,
        • Gejala: bercak bulat pada daun. Pusat bercak berwarna coklat tua dikelilingi bagian tepi berwarna coklat kemerahan atau kekuningan, daun mudah gugur;
      3. Rhizoctonia solani,
        • Gejala : bercak coklat-hitam besar pada daun.
        • Pengendalian kimia dengan fungisida bahan aktif tembaga seperti Funguran 82 WP, Kocide 77 WP atau Cupravit OB 21.
  1. Busuk daun (Phomopsis obscurans).
    • Gejala: noda bula berwarna abu-abu dikelilingi warna merah ungu, kemudian noda membentuk luka mirip huruf V.
    • Pengendalian: dengan Dithane M-45, Antracol 70 WP atau Daconil 75 WP.
  2. Layu vertisillium (Verticillium dahliae)
    • Gejala: daun terinfeksi berwarna kekuning-kuningan hingga coklat, layu & tanaman mati.
    • Pengendalian: melalui fumigasi gas dengan Basamid-G.
  3. Virus
    • Ditularkan melalui serangga aphids atau tungau.
    • Gejala: terjadi perubahan warna daun dari hijau menjadi kuning (khlorosis) sepanjang tulang daun atau totol-totol (motle), daun jadi keriput, kaku, tanaman kerdil.
    • Pengendalian: menggunakan bibit bebas virus, menghancurkan tanaman terserang, menyemprot pestisida untuk mengendalikan serangga pembawa virus. Pencegahan hama & penyakit umumnya dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kebun/tanaman, menanam secara serempak (untuk memutus siklus hidup), menanam bibit yg sehat, memberikan pupuk sesuai anjuran sehingga tanaman tumbuh sehat, melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan keluarga Rosaceae & memangkas bagian tanaman/mencabut tanaman yg sakit. Membudidayakan stroberi dengan mulsa plastik juga akan menekan pertumbuhan hama/penyakit. Khusus utk penyakit, perbaikan drainase biasanya dapat menurunkan serangan.
 PANEN STROBERI
Tanaman asal stolon & anakan mulai berbung ketika berumur 2 bulan setelah tanam. Bunga pertama sebaiknya dibuang. Setelah tanaman berumur 4 bulan, bunga dibiarkan tumbuh menjadi buah. Periode pembungaan & pembuahan dapat berlangsung selama 2 tahun tanpa henti.

 Ciri & Umur Panen
  1. Buah sudah agak kenyal & agak empuk.
  2. Kulit buah didominasi warna merah: hijau kemerahan hingga kuning kemerahan.
  3. Buah berumur 2 minggu sejak pembungaan atau 10 hari setelah awal pembentukan buah.
 Cara Panen
Panen dilakukan dengan menggunting bagian tangkai bunga dengan kelopaknya. Panen dilakukan dua kali seminggu.
7.3. Perkiraan Produksi
Produktivitas tanaman stroberi tergantung dari varietas & teknik budidaya:
  1. Varitas Osogrande: 1,2 kg/tanaman/tahun.
  2. Varitas Pajero: 0,8 kg/tanaman/tahun.
  3. Varitas Selva: 0,6-0,7 kg/tanaman/tahun.
Teknik budidaya stroberi dengan naungan UV memberikan hasil 1-1,25 kg/tanaman/tahun.
 PASCAPANEN
  1. Pengumpulan : Buah disimpan dalam suatu wadah dengan hati-hati agar tidak memar, simpan di tempat teduh atau dibawa langsung ke tempat penampungan hasil. Hamparkan buah di atas lantai beralas terpal/plastik. Cuci buah dengan air mengalir & tiriskan di atas rak-rak penyimpanan.
  2. Penyortiran & Penggolongan : Pisahkan buah yg rusak dari buah yg baik. Penyortiran buah berdasarkan pada varietas, warna, ukuran & bentuk buah. Terdapat 3 kelas kualitas buah yaitu:
    1. Kelas Ekstra: (1) buah berukuran 20-30 mm atau tergantung spesies; (2) warna & kematangan buah seragam.
    2. Kelas I: (1) buah berukuran 15-25 mm atau tergantung spesies; (2) bentuk & warna buah bervariasi.
    3. Kelas II: (1) tdk ada batasan ukuran buah; (2) sisa seleksi kelas ekstra & kelas I yg masih dalam keadaan baik.
  3. Pengemasan & Penyimpanan : Buah dikemas di dalam wadah plastik transparan atau putih kapasitas 0,25-0,5 kg & ditutup dgn plastik lembar polietilen. Penyimpanan dilakukan di rak dalam lemari pendingin 0-1 derajat C.


BUDIDAYA SAWI

2.1  Menganalisis lingkup, karakteristik dan persyaratan tumbuh tanaman
Sawi bukan tanaman asli Indonesia, menurut asalnya di Asia. Karena Indonesia mempunyai kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanahnya sehingga dikembangkan di Indonesia ini.
Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi.
Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl.
Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur. Berhubung dalam pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang menggenang. Dengan demikian, tanaman ini cocok bils di tanam pada akhir musim penghujan.
Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7.

2.2  Menganalisis Teknik pengolahan tanah
Secara umum proses pengolahan tanah untuk budidaya sawi hijau yang dimaksud adalah melakukan penggemburan tanah dan pembuatan bedengan. Pengemburan tanah dilakukan lewat pencangkulan guna memperbaiki struktur tanah, sirkulasi udara, dan pemberian pupuk dasar guna memperbaiki fisik serta kimia tanah yang tujuannya untuk menambah kesuburan lahan. Tanah yang akan digemburkan harus bersih dari semak belukar, rerumputan, bebatuan, atau pepohonan yang tumbuh.
Tanah tersebut juga harus bebas dari benda yang menaunginya, karena tanaman sawi menyukai cahaya matahari secara langsung. Kedalaman tanah yang dicangkul mencapai 20 sampai 40 cm. Untuk penyiapan lahan, sebaiknya diberi pupuk organic, seperti pupuk kandang atau kompos sebanyak 10 ton untuk setiap hektar lahan. Pupuk kandang maupun kompos diberikan saat berlangsungnya penggemburan tanah agar pupuk organik tersebut dapat cepat merata dan bercampur dengan tanah yang akan digunakan.
Untuk daerah yang memiliki pH terlalu rendah (asam), harus terlebih dahulu dilakukan pengapuran, dengan tujuan untuk menaikkan derajat keasaman tanah. Pengapuran dapat dilakukan jauh hari sebelum penanaman benih, kira-kira 2 – 4 minggu sebelum masa tanam. Jadi waktu terbaik untuk melakukan penggemburan tanah antara 2 – 4 minggu sebelum lahan ditanami. Sedang untuk jenis kapur yang dipakai adalah kapur kalsit (CaCO3) atau dolomit (CaMg(CO3)2).

2.3  Menganalisis  Teknik Bedengan
Setelah tanah di olah maka perlu di buatkan bedengan-bedengan tempat sayuran di tanam. Ukuran bedengan di sesuaikan dengan ukuran halaman yang tersedia. Untuk bedengan dapat di tanami 2 baris tanaman atau lebih sesuai jarak tanamnyapada musim kemarau bedengan sebaiknya di buat serendah-rendahnya agar akar tanaman dapat mengambila air tanah sebanyak-banyaknya. Sebaliknya pada musim hujan bedengan di buat setinggi 30-40 cm agar sistem drainase dilahan terjamin sehingga tanaman tidak akan tergenang air pada musim hujan.
2.4  Menganalisis Teknik pemberian pupuk dasar dan susulan
Pupuk dasar untuk persemaian berupa pupuk kandang sebanyak 5 kg/m2. Pupuk dasar untuk area penanaman berupa pupuk kandang 10-15 ton/ha dan pupuk urea 60 kg/ha. Pupuk tersebut di sebar dan di campur tanah bersamaan dengan pembuantan bedegan.
Pupuk susulan di berikan 2 minggu setelah bibit dipindahkan dari persemaian dengan pupuk sebanyak urea 60 kg/ha. Pemberiannya di lakukan dengan cara di larutkan dalam air kemudian di siramkan. Umur panen sawi hijau natara 30-40 hari setelah penanaman. Sawi hijau di panen dega cara memotong pangkal batang atau yang di cabut.
2.5  Menganalisis Teknik Persemaian
Persemaian tanaman sawi hijau dapat dilakukan melalui beberapa tahap:
a. Rumah Bibit
Dengan menggunakan bambu serta atap plastik polietilen, kita dapat membuat rumah bibit dengan lebar 1,5 meter, tinggi bagian depan 1,3 meter dan tinggi bagian belakang 1 meter, sedang untuk panjangnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk bedengan pembibitan dibuat di lahan seluas 80-120 cm
b. Penyemaian
Taburkan 2 kg pupuk kandang ditambah 20 kg urea, 10 gr Tsp, dan 7,5 gr Kcl di atas bedengan pembibitan, dua minggu sebelum benih sawi ditaburkan. Setelah benih sawi ditabur, tutupi benih tersebut dengan tanah halus setebal 1-2 cm
c. Transplanting
Transplanting dilakukan dengan mengisi panel semai pada media semai hingga penuh kemudian dibasahi dengan air. Jika benih sudah berdaun 2-3 helai, tanaman sawi sudah dapat dipindah ke panel semai. Untuk setiap satu lubang tanaman, isi dengan satu benih dan jangan lebih. Selanjutnya simpanlah panel semai di dalam rumah bibit hingga siap tanam (3-4 minggu).
Salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya sawi hijau adalah faktor pembenihan, karena benih yang baik dapat menghasilkan tanaman yang memiliki pertumbuhan bagus. Untuk setiap hektar lahan tanam, dibutuhkan benih sawi sebanyak 750 gram. Pada umumnya benih sawi yang baik memiliki bentuk bulat, kecil, warna kulit coklat kehitaman, agak keras, dan permukaannya licin mengkilap. Benih sawi yang akan digunakan untuk bercocok tanam harus memiliki kualitas yang baik. Jika benih tersebut didapat dari membeli, maka saat membeli harus diperhatikan lamanya penyimpanan, kadar air, varietas, suhu dan tempat untuk menyimpan.
Perhatikan dan pastikan bahwa kemasan benih tersebut dalam kondisi utuh dan kemasan berbahan alumunium foil. Jika benih yang digunakan didapat dari hasil penanaman, hal-hal yang harus diperhatikan adalah yang terkait dengan kualitas benih tersebut, misalnya tanaman yang bijinya akan diambil untuk dijadikan benih harus berumur sekurang-kurangnya 70 hari. Tanaman sawi yang akan dibuat benih harus terpisah dari tanaman sawi lainnya. Perhatikan pula proses yang lain yang akan dilakukan, seperti proses penganginan, tempat untuk menyimpan dan pastikan benih yang akan ditanam tersebut tidak lebih dari 3 tahun di tempat penyimpanan.


2.6  Menganalisis Teknik Penanaman bibit tanaman sawi
Pembibitan dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah untuk penanaman. Karena lebih efisien dan benih akan lebih cepat beradaptasi terhadap lingkungannya. Sedang ukuran bedengan pembibitan yaitu lebar 80 – 120 cm dan panjangnya 1 – 3 meter. Curah hujan lebih dari 200 mm/bulan, tinggi bedengan 20 – 30 cm.
Dua minggu sebelum di tabur benih, bedengan pembibitan ditaburi dengan pupuk kandang lalu di tambah 20 gram urea, 10 gram TSP, dan 7,5 gram Kcl.
Cara melakukan pembibitan ialah sebagai berikut : benih ditabur, lalu ditutupi tanah setebal 1 – 2 cm, lalu disiram dengan sprayer, kemudian diamati 3 – 5 hari benih akan tumbuh setelah berumur 3 – 4 minggu sejak disemaikan tanaman dipindahkan ke bedengan.

2.7  Menganalisis Teknik Pengairan
Metode Infus
- Diambil pacak dan tali untuk mengikat infus dan dipastikan infus telah bersih
- Dihitung jumlah tiap tetes per menit agar 200 ml air tidak terputus tetesannya selama 24 jam
- Dilakukan pengamatan setiap hari, air diganti dan dibersihkan infus, jangan sampai tersumbat dan berlumut
- Diambil data setiap minggu

Metode Pemberian Air Sekaligus di Atas Permukaan Tanah
- Diisi air sebanyak 200 ml pada wadah
- Disiramkankan di atas permukaan tanah pada pagi hari dan diulangi setiap harinya
- Diamati perkembangan tanaman setiap pagi dan sore
- Diambil data setiap minggu

Metode Pemberian Air 2x Sehari di Atas Permukaan Tanah
- Diisi air sebanyak 100 ml pada wadah
- Disiramkan air di atas permukaan tanah pada pagi hari dan dilakukan hal yang sama pada sore hari, diulangi setiap harinya
- Diamati perkembangan tanaman setiap pagi dan sore
- Diambil data setiap minggu

Metode Pemberian Air Sekaligus Dengan Cara Penyemprotan
- Diisi 100 sebanyak 200 ml pada handsprayer
- Disemprotkan bagian tanaman dan tanah pada pagi hari dan diulangi setiap harinya
- Diamati perkembangan tanaman setiap pagi dan sore
- Diambil data setiap minggu

Metode Pemberian Air 2x Sehari Dengan Cara Penyemprotan
- Diisi 100 sebanyak 200 ml pada handsprayer
- Disemprotkan bagian tanaman dan tanah pada pagi hari dan dilakukan hal yang sama pada sore hari, diulangi setiap harinya
- Diamati perkembangan tanaman setiap pagi dan sore
- Diambil data setiap minggu

2.8  Menganalisis Pengajiran tanaman
Penggajiran sawi
Tanaman perlu diajir agar tanaman tidak roboh karena terlalu banyak buah. Pemasangan ajir dilakukan pada awal pertumbuhan agar tidak merusak perakaran tanaman.
 Penyulaman
Bibit yang layu/mati perlu diganti agar barisan tanaman tidak                             kosong,penyulaman    dilakukan 5 – 7 HST
 Penyulaman
 Bibit yang layu/mati perlu diganti agar barisan tanaman tidak                             kosong,penyulaman    dilakukan 5 – 7 HST

2.9  Evaluasi pemangkasan pada tanaman sawi
Pemangkasan adalah penghilangan beberapa bagian tanaman. Hal ini biasanya dilakukan berkaitan dengan pemotongan bagian-bagian tanaman yang berpenyakit, tidak produktif.
2.10                     Pengendalian organisme  pengganggu pada tanaman sawi
Hama atau sejenisnya sering sekali mengganggu tanaman. Ini bisa merusak tanaman sawi, cara untuk mengendalikannya dengan menyemprot pestisida.
Beberapa bentuk pengendalian hama tanaman:
a.       Pengendalian secara bercocok tanam
b.      Pengendalian dengan varietas tahan
c.       Pengendalian secara fisik dan mekanik
d.      Pengendalian secara biologi
e.       Pengendalian secara kimiawi
f.       Pengelolaan hama terpadu

2.11                     Teknik Pemanenan pada tanaman sawi
Pada umur 40-50 hari dari umur semai, tanaman sawi sudah dapat dipanen. Untuk tanaman yang pertumbuhannya baik, disetiap satu hektar lahan dapat menghasilkan 1- 2 ton sawi hijau. Cara untuk memanen sawi ada beberapa macam  yakni:
 memotong pangkal batang, mencabut seluruh tanaman, atau memetik daunnya satu per satu.

2.12                     Evaluasi penanganan pasca panen
Beberapa aktifitas yang dilakukan pada pasca panen, diantaranya adalah:
1. Membawa hasil panen sesegera mungkin ke tempat yang teduh agar tidak cepat layu karena sinar matahari,
2. Bersihan sawi tersebut dengan membuang tanah yang melekat pada sawi atau dengan memotong bagian yang tidak penting, kemudian cucilah dengan menggunakan air guna memperpanjang kesegaran sawi,
3. Sortir hasil panen dengan membuang kotoran gulma serta sawi yang kurang baik,
4. Sawi yang telah disortir tersebut selanjutnya disusun dengan posisi berdiri, dan tidak terlalu rapat,
5. Beri percikan air secukupnya agar sawi tidak layu dan siap dipasarkan.

2.13                     Pemasaran hasil tanaman
Proses pemasaran sayuran organik mulai dari petani hingga konsumen akhir melibatkan beberapa lembaga pemasaran yaitu pedagang pengumpul dan pemasok. Terdapat tiga saluran pemasaran yang terjadi pada pemasaran sayuran organik yang dilakukan PT Agro Lestari, mulai dari petani hingga konsumen akhir.